Artikel >> Detail

Jokowi dan Gaya Komunikasi Blusukan
Posted by www.najamudin.net  |   view : 224
Jumat,24 Juni 2016 05:54:09 WIB

Jokowi dan Gaya Komunikasi Blusukan  

Oleh: H. Najamudin (Komisi D DPDRD Kota Bogor)

Di hari ulang tahun ke-55 yang jatuh tepat pada hari Selasa, 21 Juni 2016, Presiden Joko Widodo meninjau ruas jalan tol Bogor-Ciawi- Sukabumi (Bocimi) di Ciawi, Bogor. Jokowi didampingi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno, serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono meninjau proyek tol Bogor-Sukabumi sudah mangkrak sejak 1997 dan mengalami empat kali peletakan batu pertama. Jokowi pun secara tegas menyampaikan, jika swasta tidak mampu menangani dan terus lelet, akan diambil alih negara. Ia pun juga menagaskan kepada PT Waskita yang mengerjakan tol tersebut agar bisa tuntas penyelesaiannya pada tahun 2017.     

Tidak selesai hanya di lokasi itu, meski tengah berpuasa Jokowi kembali meneruskan blusukan ke tiga kota, yakni Bogor, Depok, dan Bekasi. Usai meninjau Tol Bocimi, Jokowi meninjau peternakan sapi di Rumpin, Kabupaten Bogor. Setelah itu, ia akan meninjau pembangunan Tol Cimanggis-Cibitung, dilanjutkan peninjauan Tol Depok-Antasari. Terakhir, Jokowi akan me‎ninjau Jalan Layang Bekasi-Cawang-Kampung Melayu. Kemudian, pada malamnya, Jokowi menghadiri acara peringatan Nuzulul Quran 1437 H tingkat nasional di Istana Negara, Jakarta pada pukul 20.00 WIB.

Jokowi, dengan menggunakan kemeja khasnya warna putih, tidak lagi mepriotitaskan ulang tahunnya. Baginya, melayani masyarakat harus menjadi yang utama, meski itu dilakukannya pada hari spesialnya.

Blusukan, memang menjadi gaya kepemimpinan Jokowi yang melekat sejak ia menjadi Walikota Solo, kemudian diteruskan saat menjabat Gubernur DKI Jakarta dan kini sebagai Presiden RI. Setidaknya melalui blusukan, Jokowi bisa langung bertatap muka dengan masyarakat, sekaligus mendengar keluhan serta menguji sejauh mana efektivitas layanan kinerja pemerintah. 

Lalu, apa makna gaya blusukan Jokowi? Saat diwawancarai awak media, Jokowi pernah mengatakan, seorang pemimpin harus turun langsung ke lapangan. Jadi, jangan begitu saja manggut-manggut saat menerima laporan anak buah. 

Manajemen kontrol perlu. Dan, jangan pernah percaya pada laporan. Begitu kata Jokowi. Hal itu ada benarnya. Saat ini, umumnya banyak pejabat atau pimpinan daerah lebih sering berada dibelakang meja dan hanya menunggu laporan dari bawahannya. Penyampaian ABS (Asal Bapak Senang) pun kerap kali disuguhkan. Hasilnya, pejabat yang jarang blusukan tentu tidak hanya jauh dari masyarakat, tapi juga tidak memiliki ukuran soal efektifitas produk layanan publik.   

Semasa menjabat Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo pernah memerintahkan kepada seluruh jajaran yang berada di suku dinas, camat, dan lurah beserta anggota Satpol PP untuk sering turun ke bawah. Proses blusukan turun ke jalan, menurutnya, dilakukan oleh pejabat agar tahu permasalahan yang sering dihadapi oleh warga.

Dari berita yang pernah ditayangkan salah satu media, Jokowi juga pernah menyampaikan, dia sering blusukan ke kampung-kampung dan berbincang langsung dengan warga aspirasi disampaikan langsung oleh warga. Dia menilai, jika permasalahan warga disampaikan oleh pihak ketiga akan beda penerimaan aspirasinya.

Blusukan ala Jokowi, memang menjadi bahasa komunikasi yang efektif yang patut ditauladani. Melalui blusukan, seperti yang pernah disampaikan Jokowi dimulai dari ia menjabat Walikota Solo hingga sebagai kepala negara, manfaatnya mampu mendengar keinginan dari masyarakat. 

"Keinginan itu harus ditangkap, keinginan akar rumput apa, keinginan masyarakat yang ada di bawah itu apa baru menyampaikan visi misi kita. Supaya nyambung apa kebijakan dengan mereka. Kalau sudah sambung menyampaikan pesan mereka mudah," begitu kutipan kata Jokowi. 

Ya, blusukan adalah berdialog, berbaur dan mencari solusi bersama masyarakat dan pegawai. Bukan sosialisasi keputusan yang diambil sepihak. Ini adalah landasan untuk menuju pembangunan yang partisipatif.

Inilah demokrasi yang menurut budaya Jepang diterapkan dengan semangat gemba kaizen (perbaikan berkelanjutan) dan menghormati orang lain, yang diterapkan dalam konteks masyarakat. Sehingga blusukan menjadi kunci manajemen kualitas dan semangat perbaikan berkelanjutan.

Lalu, apa arti blusukan Jokowi? Gaya kepemimpinan Jokowi yang membiasakan blusukan sejak dulu secara tidak langsung telah membongkar budaya buruk yang tak produktif bagi pejabat daerah, warga dan juga dunia usaha. Stigma yang menempatkan pejabat sebagai raja, kini menjadi sebaliknya, warga dan perusahaan pembayar pajak lah sejatinya yang menjadi raja. 

Selanjutnya, melalui blusukan juga bisa mengukur penilaian kinerja atas kepuasan masyarakat, bukan atasan. Juga kesederhanaan yang terlihat dari mobil dan pakaian blusukan. Terpenting, melalui blusukan juga menyampaikan pesan moral bahwa pejabat adalah rakyat yang tidak perlu diistimewakan dan  tidak bermewah-mewahan. (Penulis : Anggota Komisi D, DPRD Kota Bogor, Najamudin)